Makna Glossalalia Menurut Kisah Para Rasul 2:1-13 dan Implikasi Urapan Roh Kudus Bagi Mahasiswa Teologi

Marthen Mau

Abstract


Glossalalia is an act of speaking using language or tongues or tongues. Tongues can be considered by certain people as tongues. Actually speaking in tongues is not the same as tongues. Therefore, this study uses a qualitative research method with an exegetical approach according to the text of Acts 2: 1-13 on glossalalia. The purpose of this research is to encourage theology students to understand and apply the meaning of glossalalia correctly. The result of this research is the finding that the meaning of glossalalia is not in tongues which is generally used by certain churches of God with the pretext that it is God's voice that must be developed, but in tongues that can be learned by everyone to be used in ministry. In conclusion, theological students understand glossalalia in Acts 2: 1-13 so that theological students properly apply tongues in the preaching of the gospel of Christ. Gospel preaching is growing and advancing, so students of theology must continually receive the anointing of the Holy Spirit.

Abstrak

Glossalalia merupakan suatu tindakan dalam berbicara menggunakan bahasa atau lidah atau bahasa lidah. Bahasa lidah dapat dianggap oleh orang-orang tertentu sebagai bahasa roh. Sebenarnya bahasa lidah tidaklah sama dengan bahasa roh. Karena itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan eksegesis menurut teks Kisah 2:1-13 tentang glossalalia. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendorong mahasiswa teologi dalam memahami dan menerapkan secara tepat makna tentang glossalalia. Hasil penelitian ini ialah temuan makna glossalalia bukan bahasa roh yang umumnya dipakai oleh gereja Tuhan tertentu dengan sebuah dalih sebagai suara Tuhan yang harus dikembangkan, melainkan bahasa lidah yang boleh dipelajari oleh setiap orang untuk digunakan dalam pelayanan. Kesimpulannya, mahasiswa teologi memahami glossalalia dalam Kisah 2:1-13 supaya mahasiswa teologi secara benar menerapkan bahasa lidah di dalam pemberitaan Injil Kristus. Pemberitaan Injil semakin berkembang dan maju, maka para mahasiswa teologi harus terus-menerus menerima pengurapan dari Roh Kudus.  


Keywords


Makna; Glossalalia; Implikasi; Urapan Roh Kudus

Full Text:

PDF

References


Brill, W. (2000). Dasar yang teguh. Kalam Hidup.

Browning, W. R. F. (2019). Kamus Alkitab. BPK Gunung Mulia.

Djam’an, S., & Aan, K. (2010). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta, 28.

Drewes B.F., Haubeck, W., & Siebenthal, H. Von. (2011). Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru Matius hingga Kitab Kisah Para rasul. BPK Gunung Mulia.

Hayes, J. H., & Holladay, C. R. (2006). Pedoman Penafsiran Alkitab. BPK Gunung Mulia.

Mau, M. (2020). Pentingnya Integritas Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Membimbing Kepribadian Peserta Didik. SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen, 1(2), 145–161. https://doi.org/10.52220/sikip.v1i2.60

Newman, B. M. (1991). Kamus Yunani-Indonesia untuk Perjanjian Baru. BPK Gunung Mulia.

Penyusun, T. (1995). Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (2 (Ed.)). Balai Pustaka.

Purba, D. W. (2018). Hermeneutika Sebagai Metode Pendekatan Dalam Teologi. Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen, 3(1), 527.

Rachman, R. (2009). Hari Raya Liturgi. BPK Gunung Mulia.

Riemer, G. (2015). Oknum dan Pekerjaan Roh Kudus. Literatur Perkantas.

Siahaan, E. (2012). Refleksi Alkitabiah Fenomena Glossolalia. Jurnal Antusias, 2(1), 160–179.

Sutanto, H. (2004). Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru II.

Waang, M. T. (2015). Karunia-Karunia Roh dan Penyimpangannya dalam Gereja. Penerbit Delima.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Marthen Mau

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.